Rabu, 20 Februari 2013

Lantunan Perih


Dentuman yang sedang tercipta ini aku sebut rindu
Entah sudah bosan atau malah sudah tak nampak lagi di matamu
Kandungan air mata ini sudah hampir terlahir
Terlahir bersama sakitnya menahan rindu
Semilir angin yang kering menampar manis pipiku
Tapi sama sekali tak terasa perih
Seolah terkalahkan dengan perih yang tergores di dalam ku
Tak perlu kau ingin mengerti
Karena aku sama sekali tak akan menjelaskannya
Lebih baik begini
Memendam rasa rindu yang teramat sangat
Tanpa se-cerca cahaya pun mampu menembusnya
Maka biarkan alunan rintih itu merobek sendiri dindingnya
Meski hanya berdinding tipis
Aku tau lapisannya duri kecil yang siap menusukku
Nada yang terdengar begitu menggetar relung hati
Apa kau juga sempat mendengarnya ?
Atau mungkin hanya berlalu tanpa mengesankan apa-apa
Ya, baiknya lantunan nada rindu ini menjadi bagian pedihku sendiri
Tanpa ada kamu di selanya

Kata Dalam Pesan


Demi Cinta jariku menari-nari
Tak peduli kertas benci atau tidak tubuhnya di coret
Aku hanya patuh pada hati yang menggemakan pedih
Seperti mimpi pesan ini aku tulis
Entah sadar ku masih pada tempatnya atau tidak
Aku akan berlalu daripada mu
Sebut ini sekejap saja
Memang berat pergi dari hadapmu dalam waktu yang panjang
Tapi dengan segala hormat kepercayaan
Aku ingin kita tetap saling berdiri
Saling menunggu hingga akhirnya aku kembali
Aku pastikan hati ini tak akan keropos dimakan waktu
Aku pastikan namamu akan tetap mengisi ruang ini
Hanya saja aku mohon
Saat aku kembali tetap lah menjadi malaikat ku
Aku tak ingin kembali tanpa mu di penghujungnya
Percaya lah
Bila kita tetap mengagungkan kesetiaan
Semuanya akan tetap seperti ini
Jaga diri mu saat aku tiada :’)
Dan janji ku akan kembali dengan rasa yang sama