Aku sedang terlalu jauh merenung
Tolong sadarkan aku
Masa menyakitkan itu seolah kembali datang
Merontokan terlalu banyak daun muda yang
baru tumbuh
Mengeringkan nafasku yang baru basah dengan harapan
Aku tak pernah menyangka
Berjalan bersama mu di atas kerikil itu
Sela-sela jariku terselip banyak duri
Belum lagi sayapmu yang tiba-tiba meruncing
Hingga menusuk mata hatiku
Aku munafik berkata kuat pada awan yang
menertawakan kesesakkanku
Aku menangis, tapi air mataku juga tak sudi lagi menemani dalam sedihku
Semuanya seolah menari-nari mencobai aku
Aku berkeras dan berkata aku mampu berdiri
Angin dating membawaku terbang jauh darimu
Apa kamu mencariku ?
Tentu tidak !
Kau malah tertawa senang aku dibawanya jauh
Entah apa yang membutakan aku
Bila embun di atas daun itu menyejukan
Tolong bawakan saja es kutub itu untuk membekukan aku
Bila nanti aku terlanjur retak karena bekuan itu
Biarkan saja kepingan itu menusukku kembali
Bukankah itu yang kau inginkan ?
Aku terluka perlahan lalu mati !
Bila demikian bisa membuat mu bahagia
Aku akan membiarkan kulit telapak kaki
ku ini terlepas beserta dagingnya
Yang terpenting aku sudah berusaha tetap menapak meski tak kuat lagi
Akan kuangkat kepalaku keatas dan menantang awan
Kan aku katakan padanya
Aku sudah berusaha dan aku kuat
Kalaupun awan tetap menari dengan perihku
Aku akan tertawa dan berkata
Aku menang dan aku sekarang tau
Awan , air mata dan kamu tak layak aku tunggu
Maka aku akan berlalu dari hadapmu
Penyesalan yang terdalam adalah membiarkanmu
