Minggu, 06 Januari 2013

Menyakiti Ku Dengan Sempurna


Aku sedang terlalu jauh merenung
Tolong sadarkan aku
Masa menyakitkan itu seolah kembali datang
Merontokan terlalu banyak daun muda yang baru tumbuh
Mengeringkan nafasku yang baru basah dengan harapan
Aku tak pernah menyangka
Berjalan bersama mu di atas kerikil itu
Sela-sela jariku terselip banyak duri
Belum lagi sayapmu yang tiba-tiba meruncing
Hingga menusuk mata hatiku
Aku munafik berkata kuat pada awan yang menertawakan kesesakkanku
Aku menangis, tapi air mataku juga tak sudi lagi menemani dalam sedihku
Semuanya seolah menari-nari mencobai aku
Aku berkeras dan berkata aku mampu berdiri
Angin dating membawaku terbang jauh darimu
Apa kamu mencariku ?
Tentu tidak !
Kau malah tertawa senang aku dibawanya jauh
Entah apa yang membutakan aku
Bila embun di atas daun itu menyejukan
Tolong bawakan saja es kutub itu untuk membekukan aku
Bila nanti aku terlanjur retak karena bekuan itu
Biarkan saja kepingan itu menusukku kembali
Bukankah itu yang kau inginkan ?
Aku terluka perlahan lalu mati !
Bila demikian bisa membuat mu bahagia
Aku akan membiarkan kulit telapak kaki ku ini terlepas beserta dagingnya
Yang terpenting aku sudah berusaha tetap menapak meski tak kuat lagi
Akan kuangkat kepalaku keatas dan menantang awan
Kan aku katakan padanya
Aku sudah berusaha dan aku kuat
Kalaupun awan tetap menari dengan perihku
Aku akan tertawa dan berkata
Aku menang dan aku sekarang tau
Awan , air mata dan kamu tak layak aku tunggu
Maka aku akan berlalu dari hadapmu
Penyesalan yang terdalam adalah membiarkanmu
Menyakitiku dengan sempurna

Rona Pipi & Aliran Darah


Senyum itu masih sama dengan senyum di awal
Sial ! masih saja menghipnotisku
Mungkin kamu tak menyadarinya
Senyum ringan itu membuat pipiku merona
Lagi-lagi aku berteman malu
Maka hai tuan yang menawan
Pergilah sejenak
Dengan senyum mu yang santai di garis bibir itu
Agar aku bias menari-nari dengan bahagiaku
Bukan aku mengusik hadirmu
Hanya saja
Aku tak kuasa menahan pancaran malu disini
Bila nanti pancaran ini menyilaukan mu
Aku sama sekali tak bertanggungjawab atasnya
Jangan juga melirikan matamu terlalu tajam
Darah ini jadi mengalir terlalu cepat
Simpan baik-baik lirikan itu
Untuk mengobati rasa marahku pada mu suatu saat nanti
Maaf aku banyak permohonan
Ini demi aku dengan rona pipi dan aliran darahku
J

Jumat, 04 Januari 2013

Bulan , Topan dan Rahasia


Pagi itu bulan membolak-balikan buku manajerialnya yang setebal buku telepon . Entah apa yang dicarinya . Sepotong kertas tejatuh dari halaman 172 . Bulan membuka kertas usang yang sudah kecoklatan warnanya. Sementara membuka ketas, Bulan merapikan rambut panjangnya yang terurai . Tidak lama dari membuka kertas, Bulan mulai menitikkan air matanya . Siapa sangka surat yang usang itu menyimpan berjuta rahasia yang membuat Bulan sangat terkejut . Surat itu dari Topan. Sahabat nya yang sejak kecil bersama-sama. Bulan dan Topan tidak pernah terpisah . Selalu besekolah di sekolah yang sama hingga mereka duduk di bangku kuliah . Hingga akhirnya lulus dan kemudian Bulan dilamar oleh  kekasihnya di perkuliahan lalu menikah. Sedangkan Topan memilih pindah ke luar negeri untuk bekerja disana.  Topan tak pernah ada kabar. Hingga akhirnya ada kecelakaan yang merenggut nyawa Topan .  Bulan sangat terkejut dengan kejadian ini . Adik Topan , Mia memberitahukan bahwa ada rahasia yang Topan sembunyikan di buku Manajerial  Bulan . Dan Akhinya Bulan menemukan surat Topan yang berisi demikian ...
Dear, Bulan ..
Saat kamu membaca surat ini, mungkin surat ini sudah sangat usang atau aku sudah pergi jauh. Tapi percayalah bahwa apa yang aku tulis disini adalah benar adanya . Bulan, aku sangat mencintaimu . Sebutlah aku si bodoh yang tak pernah berani mengungkapkannya.  Aku memang pengecut yang terlalu takut kehilangan kamu bila aku mengungkapkan semuanya . Setiap kebahagiaanmu , itu lah juga yang jadi kebahagiaanku . Bukankah benar mencintai tak harus memiliki ? Maka inilah aku . Meski aku terpukul saat kamu memilih untuk menikah dengan Tio, aku tetap berusaha tegar. Hingga akhirnya aku tak kuat lalu memutuskan untuk bekerja jauh dari kamu . Dan aku lebih memilih tak memberimu kabar, agar aku tak punya kesempatan untuk mencitaimu kembali . Memang benar aku pernah dan terus mencintai mu tanpa kamu sadari. Melihat senyummu dari jauh itu sudah jadi bahagiaku . Maka sekarang, aku dapat pergi dengan tenang. Karena semuanya sudah aku katakan padamu .
Semoga kamu mendapat bahagiamu dengannya .
                                                                                     Topan

Terlambat sudah semuanya. Jujur-nya-pun Bulan pernah mencintai Topan sepenuh hati, Namun hati yang tak saling bicara tak akan menjadi apa-apa . Hanya penyesalan di akhirnya  J


Kamis, 03 Januari 2013

Penghujung Luka


Luka ini masih dengan kamu
Apakah arti sebuah kata mencintai menurutmu ?
Apakah se-agung pendapatku ?
Kuharap demikian
Meski kenyataan berkata tidak
Apa kamu merasakan luka yang tergores perlahan?
Luka yang tak kau sadari
Yakinku ini akan segera berakhir
Cukup koyak sudah hati ini karenamu
Meski kata tak terucap
Tapi air di balik kelopak mata ini meronta
Bila luka ku ini belum cukup kau sadari
Maka pergilah ke ujung padang pasir
Hiruplah udara yang kering
Rasakan air pahit yang terkutuk perih
Nikmati juga cuka dalam luka goresmu
Sedemikian lah sakit yang aku rasakan berulang
Maka terima kasih untuk waktu yang terhormat
Ajaran berharga yang kudapat
Mengenai betapa bodohnya aku yang menyiakan detik
Untuk merebahkan cinta yang terlalu dalam
Pada hati yang salah
Maka sekarang aku pergi demi kita