Kamis, 30 Mei 2013

Abu-Abu Jingga




Kali ini aku sebut lingkaran itu abu-abu
Entah mengapa menjadi kurang jelas warnanya
Serasa begitu cepat berubah-ubah
Mengikuti gerak tubuhmu yang juga terlalu sering berubah
Namun aku tetap menunggu tiap perubahannya
Aku berharap kamu akan tersenyum meski sebentar
Dan entah kenapa tiap ada senyum yang meski bukan untuk ku
Tetap menghasilkan rona jingga di kedua pipi ini
Dan sekejap langsung ku buang jauh-jauh pandangan ke tempat lain
Apa kamu melihat abu-abu dipikiran ku ?
Karna terlalu banyak pertanyaan yang sebenarnya ingin terlontar
Atau apa kamu melihat rona jingga di pipi ini ?
Tak perlu kamu tanya darimana asalnya
Karna kamu seharusnya tau
Jingga malu ini karena bayangan indah yang sering aku cipta sendiri
Akan aku biarkan abu dan jingga ini menyelaraskan dirinya dalam rasa
Selama itu dapat aku tahan
Bila sudah terlalu kuat mungkin akan ada percikan banyak warna

Yang akhirnya dapat kamu lihat dengan jelas J

Kamis, 14 Maret 2013

Leleh tak Bersisa


Kali ini aku merasakan lagi percikan yang kuat
Entah datang darimana percikan itu
Tapi siapa peduli itu berasal darimana ?
Aku hanya senang merasakan sensasinya
Memacu jantungku berdegup begitu kencang
Tiap kali aku memergoki pandangan matanya
Yang entah sengaja atau tidak
Sedang menatapku diam-diam
Setiap situasi saling pandang itu berlangsung
Aku selalu kalah
Karena kontan aku membuang pandanganku ke tempat lain
Mungkin kontak mata itu hanya bertahan dua detik saja
Lalu aku kembali meredupkan rona merah di pipi
Sambil sesekali tersenyum dibalik malu
Aku selalu suka gayanya berpakaian
Rapih dan santai
Tatapannya yang dingin kadang membuat aku mati kutu
Belum lagi saat tubuhnya melewat tepat di depanku
Rasanya meleleh saat itu juga
Entah masih adakah bongkahan yang masih berarti dari lelehan itu
Mungkin sudah habis terbawa oleh pesona nya tanpa sisa

Rabu, 20 Februari 2013

Lantunan Perih


Dentuman yang sedang tercipta ini aku sebut rindu
Entah sudah bosan atau malah sudah tak nampak lagi di matamu
Kandungan air mata ini sudah hampir terlahir
Terlahir bersama sakitnya menahan rindu
Semilir angin yang kering menampar manis pipiku
Tapi sama sekali tak terasa perih
Seolah terkalahkan dengan perih yang tergores di dalam ku
Tak perlu kau ingin mengerti
Karena aku sama sekali tak akan menjelaskannya
Lebih baik begini
Memendam rasa rindu yang teramat sangat
Tanpa se-cerca cahaya pun mampu menembusnya
Maka biarkan alunan rintih itu merobek sendiri dindingnya
Meski hanya berdinding tipis
Aku tau lapisannya duri kecil yang siap menusukku
Nada yang terdengar begitu menggetar relung hati
Apa kau juga sempat mendengarnya ?
Atau mungkin hanya berlalu tanpa mengesankan apa-apa
Ya, baiknya lantunan nada rindu ini menjadi bagian pedihku sendiri
Tanpa ada kamu di selanya

Kata Dalam Pesan


Demi Cinta jariku menari-nari
Tak peduli kertas benci atau tidak tubuhnya di coret
Aku hanya patuh pada hati yang menggemakan pedih
Seperti mimpi pesan ini aku tulis
Entah sadar ku masih pada tempatnya atau tidak
Aku akan berlalu daripada mu
Sebut ini sekejap saja
Memang berat pergi dari hadapmu dalam waktu yang panjang
Tapi dengan segala hormat kepercayaan
Aku ingin kita tetap saling berdiri
Saling menunggu hingga akhirnya aku kembali
Aku pastikan hati ini tak akan keropos dimakan waktu
Aku pastikan namamu akan tetap mengisi ruang ini
Hanya saja aku mohon
Saat aku kembali tetap lah menjadi malaikat ku
Aku tak ingin kembali tanpa mu di penghujungnya
Percaya lah
Bila kita tetap mengagungkan kesetiaan
Semuanya akan tetap seperti ini
Jaga diri mu saat aku tiada :’)
Dan janji ku akan kembali dengan rasa yang sama

Minggu, 06 Januari 2013

Menyakiti Ku Dengan Sempurna


Aku sedang terlalu jauh merenung
Tolong sadarkan aku
Masa menyakitkan itu seolah kembali datang
Merontokan terlalu banyak daun muda yang baru tumbuh
Mengeringkan nafasku yang baru basah dengan harapan
Aku tak pernah menyangka
Berjalan bersama mu di atas kerikil itu
Sela-sela jariku terselip banyak duri
Belum lagi sayapmu yang tiba-tiba meruncing
Hingga menusuk mata hatiku
Aku munafik berkata kuat pada awan yang menertawakan kesesakkanku
Aku menangis, tapi air mataku juga tak sudi lagi menemani dalam sedihku
Semuanya seolah menari-nari mencobai aku
Aku berkeras dan berkata aku mampu berdiri
Angin dating membawaku terbang jauh darimu
Apa kamu mencariku ?
Tentu tidak !
Kau malah tertawa senang aku dibawanya jauh
Entah apa yang membutakan aku
Bila embun di atas daun itu menyejukan
Tolong bawakan saja es kutub itu untuk membekukan aku
Bila nanti aku terlanjur retak karena bekuan itu
Biarkan saja kepingan itu menusukku kembali
Bukankah itu yang kau inginkan ?
Aku terluka perlahan lalu mati !
Bila demikian bisa membuat mu bahagia
Aku akan membiarkan kulit telapak kaki ku ini terlepas beserta dagingnya
Yang terpenting aku sudah berusaha tetap menapak meski tak kuat lagi
Akan kuangkat kepalaku keatas dan menantang awan
Kan aku katakan padanya
Aku sudah berusaha dan aku kuat
Kalaupun awan tetap menari dengan perihku
Aku akan tertawa dan berkata
Aku menang dan aku sekarang tau
Awan , air mata dan kamu tak layak aku tunggu
Maka aku akan berlalu dari hadapmu
Penyesalan yang terdalam adalah membiarkanmu
Menyakitiku dengan sempurna

Rona Pipi & Aliran Darah


Senyum itu masih sama dengan senyum di awal
Sial ! masih saja menghipnotisku
Mungkin kamu tak menyadarinya
Senyum ringan itu membuat pipiku merona
Lagi-lagi aku berteman malu
Maka hai tuan yang menawan
Pergilah sejenak
Dengan senyum mu yang santai di garis bibir itu
Agar aku bias menari-nari dengan bahagiaku
Bukan aku mengusik hadirmu
Hanya saja
Aku tak kuasa menahan pancaran malu disini
Bila nanti pancaran ini menyilaukan mu
Aku sama sekali tak bertanggungjawab atasnya
Jangan juga melirikan matamu terlalu tajam
Darah ini jadi mengalir terlalu cepat
Simpan baik-baik lirikan itu
Untuk mengobati rasa marahku pada mu suatu saat nanti
Maaf aku banyak permohonan
Ini demi aku dengan rona pipi dan aliran darahku
J